Kamis, 20 September 2012

JAJANAN TRADISIONAL YANG MULAI DITINGGALKAN


Jajanan yang manis dan unik ini disukai oleh berbagai kalangan terutama para mahasiswa, makanan ini mulai tersingkir dari pasaran karena kalah populer dengan makanan yang lain

Minggu (01/04), Ditengah-tengah kerumunan baju ada penjual manisan yang dikenal dengan nama gulali, penjual tersebut bertahan untuk melanjutkan usaha keluarganya yang sudah berjalan dari  tahun 1987. Penjual tersebut belajar membuat bentuk –bentuk unik manisan secara otadidak hanya dengan melihat gambar-gambar.

Namun ketika memperhatikan makanan yang terbuat dari gula pasir yang  dicampuri pewarna kue yang direbus sampai menjadi karamel ini tidak mendapat respon baik dari para pembeli (kurang peminat), yang terliahat di kios Pak Hariyanto. sungguh ironis nasib makanan ini padahal dulu begitu disukai tapi sekarang malah disingkirkan begitu saja, sedangkan Pak Hariyanto hanya mempunyai keahlian membuat gulali untuk menghidupi keluarganya, tapi meskipun demikian Pak Hariyanto tetap bertahan menjual gulalinya yang sudah menjadi hasil turun temurun selama 24 tahun.

IBU SIAMI PENJUAL TAHU PETIS


Tahu petis, jika kita melihat kata tersebut, banyak diantara kita yang menilai itu adalah makanan kaum minoritas, tapi sipa sangka dari berjualan tahu petis itulah ibu Siami (38), menghidupi keluarganya. Dengan upah dari suami seorang kuli batu tentu tidak banyak mencukupi kebutuhan hidup yang semakin tinggi apalagi  untuk mencukupi  kebutuhan pendidikan buah hatinya yang sudah kelas  dua SMK.

Dengan berpenghasilan antara 80.000,- s/d 100.000,- ribu setiap harinya, ibu Siami  bisa mecukupi kebutuhan keluarga. Ia pun memulai usahanya itu sejak tahun 1999 dengan bermodalan geobak berjualan mengelilingi dilingkungan dekat rumahnya, tapi kalau hari munggu jualan di pasar minggu.

ALUN-ALUN SEBAGAI LAHAN PACARAN


Sabtu 28 April 2012 ( 21/24) alun-alun kota Malang di padati banyak pengunjung dari berbagai daerah yang ada dikota Malang, hal itu dikarenakan pada malam itu bertepatan dengan malam minggu. Dari sekian banyak pengunjung yang ada, rata-rata didominasi oleh kalangan remaja, meskipun ada juga orang tua yang liburan bareng keluarganya. Dengan banyaknya penjual dan tempat yang agak remang-remang membuat tempat ini menjdi kesukaan para remaja yang menghabiskan liburannya bersama pacarnya,

Supriadi (22) salah satu mahasiswa di Malang, mengtakan kalau dia datang ke alun-alun hanya untuk jalan-jalan sama pacarnya, bahkan iya melakuakan hal itu bukan Cuma satu dua kali saja malahan tiap malam minggupun menjadi aktifitas dia, hal itupun karna di alun-alun lebih murah jadi lebih ekonomis tentang pengeluaran uang.

Beda halnya dengan pernyataan Sugeng Prayetno (29) yang memamfaatkan alun-alun sebagai refresing saja, karna sudah merasa jenuh kalau terus jalan-jalan di mol taupun yang lainnya, menaggapi tentang alun-alun yang dijadikan sebagi tempat pacaran, bapak satu anak ini mengomentari “ asalkan mereka tidak berbuat yang aneh-aneh saya kira sah-sah saja kalu alun-alaun ini dijadikan tempat pacaran”

Dari data diatas tentunya terlintas dibenak kita apakah layak jika alu-alun itu digunakan sebagai tempat pacaran, padahal disitu merupakan tempat umum dan lagi merupakan berada dilingakarang tengah jalan, yang notabene akan selalu diliahat oleh kalangan masyrakat yang melintas dikawasan tersebut, mengigat petingnya hal demikian apakah ada solusi yang dilakuakan oleh pemerintah, khususnya pemerintah kota malang terhadap persoalan ini.

BBM; AOLENG

Beberapa hari terakhir berita-berita dikoran, telivisi diramaikan dengan berita seputar kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang masih belum pasti keputusannya. Hal itu memicu banyak perdebatan dari beberapa pihak, bahkan dari berbagai aliansi partai politik (parpol) ikut memperdebatkan hal tersebut.

Ada partai yang setuju dengan isu ini seperti Golkar, Demokrat, PPP, PAN. Ada juga yang tidak setuju seperti PDIP, Hanura, dan PKS. Yang setuju dengan kenaikan BBM, berpendapat karna harga minyak dunia naik, anggaran bisa dihemat sampai 57 triliun.

Dulu jaman orde baru (orba) harga BBM pernah mencapai Rp.8.500,- jadi kalau sekarang masih sekitar Rp.6.500,- wajar kalau dinaikkan, subsidi BBM tidak banyak membantu rakyat yang kecil. Yang tidak setuju berpendapat kenaikan BBM bisa memicu  kenaikan harga dan akan menyusahkan rakyat kecil.

Dari beberapa rapat yang dilakukan oleh pemerintah tidak ada satupun keputusan yang dapat disimpulkan, sehinnga ketua bidang anggaran (banggar) mengatakan kesepakatan soal kenaikan harga BBM, subsidi akan dibawa langsung dalam rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Dan pada akhirnya dua opsi yang telah diputuskan secara bulat juga masih alot. Opsi pertama pemerintah diizinkan menaikkan harga BBM bersubsidi menjadi Rp. 6000 per liter dengan alokasi subsidi BBM hanya Rp. 137 triliun. Sementara, opsi kedua meminta pemerintah tidak perlu menaikkan harga BBM namun pemerintah akan diberikan anggaran tambahan subsidi sebesar Rp. 178 triliun.

Lalu bagaimana tanggapan pemerintah dalam menangani hal-hal buruk yang akan terjadi mengenai kenaikan BBM, seperti maraknya pendemonstran dari berbagai kota yang tidak jarang menimbulan keresahan untuk masyarakat bahkan berujung pada keanarkisan. Karna tidak menutup kemungkinan para pendemo akan semakin bertambah banyak jumlahnya, bukan hanya dari pihak mahasiswa saja yang terlibat dalam aksi tersebut, melainkan dari rakyat kecil dan buruhpun ikut terlibat.

Pemerintah harusnya lebih serius menaggapi hal ini, karna kebijakan kenaikan BBM akan berpengaruh pada harga-harga yang lain khususnya kebutuhan pokok, hal tersebut sangat mempengruhi kesejahteran rakyat, dan pada hakikatya pemerintah harus memikirkan kesejahteraan rakyat.        
                                                                                                                                           
                                                                                                                                 25 Maret 2012                                                                                                                  

Gulali Yang Mulai terasingkan di Kota Malang


Jajanan yang manis dan unik ini disukai oleh berbagai kalangan terutama para mahasiswa, makanan ini mulai tersingkir dari pasaran karena kalah populer dengan dengan makanan yang lain

Minggu (01/04), Ditengah-tengah kerumunan baju ada penjual manisan yang dikenal dengan nama gulali, penjual tersebut bertahan untuk melanjutkan usaha keluarganya yang sudah berjalan daru tahun 1987. Penjual tersebut belajar membuat bentuk –bentuk unik manisan secara otadidak hanya dengan melihat gambar-gambar.

Namun ketika memperhatikan makanan yang terbuat dari gula pasir dan dicampuri pewarna kue yang direbus sampai menjadi karamel ini tidak mendapat respon baik dari para pembeli (kurang peminat),yang terliahat di kios Pak Hariyanto. sungguh ironis nasib makanan ini padahal dulu begitu disukai tapi sekarang malah disingkirkan begitu saja, sedangkan pak hariyanto hanya mempunyai keahlian membuat gulali untuk menghidupi keluarganya.

Pak hariyanto menjual gulali mulai dari harga Rp 3.000,- s/d Rp.5.000,- semakin sulit bentuknya juga semakin mahal harganya membuat gulali tidak setiap hari terkadang seminggu sekali .
Pak hariyanto berharp agar usahanya tidak dikucilkan lagi, beliau mengimginkan kemajuan pada usahanya yag telah berjalan 24 tahun.